BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu
yang sangat penting dalam proses belajar di sekolah. Bahasa dapat diartikan
sebagai suatu sistem simbol dan urutan kata-kata yang digunakan untuk
berkmunikasi dengan orang lain. Menurut Robert E. Owen bahasa dapat
didefinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional
untuk menyampaikan konsep melalui penggunaan simbol yang dikehendaki dan
kombinasi simbol yang diatur oleh ketentuan. Menurutnya, bahasa dapat dibagi
menjadi tiga komponen utama yaitu: bentuk (form) yang mencakup sintaksis,
morfologi, dan fonologi; isi (content) yang mencakup makna atau semantik; dan
penggunaan yang mencakup pragmatik.
Bahasa terdiri atas beberapa tataran
gramatikal antara lain kata, frase, klausa, dan kalimat. Kata merupakan tataran
terendah dan kalimat merupakan tataran tertinggi. Ketika Anda menulis, kata
merupakan kunci utama dalam upaya membentuk tulisan. Oleh karena itu, sejumlah
kata dalam Bahasa Indonesia harus dipahami dengan baik, agar ide dan pesan
seseorang dapat mudah dimengerti. Dengan demikian, kata-kata yang digunakan
untuk berkomunikasi harus dipahami dalam konteks alinea dan wacana. Kata
sebagai unsur bahasa, tidak dapat dipergunakan dengan sewenang-wenang. Akan
tetapi, kata-kata tersebut harus digunakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang
benar.
Menulis merupakan kegiatan yang mampu
menghasilkan ide-ide dalam bentuk tulisan secara terus-menerus dan teratur
(produktif) serta mampu mengungkapkan gambaran, maksud, gagasan, perasaan
(ekspresif). Oleh karena itu, ketrampilan menulis atau mengarang membutuhkan
grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Salah satu unsur penting dalam
mengarang adalah penguasaan kosa kata. Kosa kata merupakan bagian dari diksi.
Ketepatan diksi dalam suatu karangan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan
karena ketidaktepatan penggunaan diksi pasti akan menimbulkan ketidakjelasan
makna.
Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata
pengarang untuk menggambarkan “cerita” mereka. Diksi bukan hanya berarti
pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan atau
menceritakan suatu peristiwa tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya
bahasa, dan ungkapan-ungkapan.[1]
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam
penulisan makalah ini perlu adanya rumusan masalah. Adapaun rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut :
1.
Apa pengertian diksi?
2.
Apa saja syarat-syarat diksi?
3.
Bagaimana penggunaan diksi dalam kalimat?
C.
Tujuan Penulisan
Sebagaimana rumusan masalah yang ada, maka
tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.
Untuk mengetahui defini diksi.
2.
Untuk syarat-syarat diksi.
3.
Untuk mengetahui cara menggunakan diksi dalam kalimat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Diksi
Diksi adalah pilihan kata.
Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Pilihan kata
merupakan satu unsur sangat penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun
dalam dunia tutur setiap hari. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk
menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus. Kamus memberikan
suatu ketepatan kepada kita tentang pemakaian kat-kata. Dalam hal ini, makna
kata yang tepatlah yang diperlukan
Didalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Diksi berarti pilihan kata yg tepat dan
selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh
efek tertentu (seperti yang diharapkan).[2]Diksi merupakan pemilihan
kata yang tepat untuk mempertegas maksud pembicaraan agar tidak terjadi kesalah
pahaman antara seorang pembicara dan pendengar tentang gagasan atau ide yang
disampaikan dalam suatu proses komunikasi. Akan terjadi kesalah pahaman tentang
gagasan dan ide jika diksi yang dipakai tidak sesuai dengan konteks.
Diksi merupakan pemilihan
kata yang tepat dalam membuat suatu kalimat yang meliki pengungkapan arti yang
bertujuan agar mudah dipahami.Dalam pemilihan kata tersebut terdapat istilah
umum dan istilah khusus. Istilah umum merupakan kata yang biasa
digunakan,sedangkan istilah khusus merupakan penggunaan kata yang jarang
didengar dan digunakan oleh orang pada umumnya.
Pilihan kata atau diksi
adalah pemilihan kata-kata yang sesuai dengan apa yang hendak kita ungkapkan.
Saat kita berbicara, kadang kita tidak sadar dengan kata – kata yang kita
gunakan. Maka dari itu, tidak jarang orang yang kita ajak berbicara salah
menangkap maksud pembicaraan kita.
Gorys Keraf mengungkapkan
dalam bukunya tentang beberapa point-point penting tentang diksi, yaitu :[3]
1.
Plilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata
mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk
pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan, dan gaya
mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
2.
Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara
tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan
untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang
dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
3.
Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan
oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu.
Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah
keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.
B.
Syarat-syarat Diksi
Syarat-syarat pemilihan kata adalah sebagai berikut :[4]
1.
Dapat membedakan antara denotasi dan konotasi
Misalnya :
-
Monyet itu kurus sekali.
-
Dasar monyet kamu itu!
2.
Dapat membedakan kata kata yang bersinonim
Contoh :
-
Pengubah - Peubah
3.
Dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip dalam
ejaannya
Misalnya :
-
Karton – Kartun
-
Intensif – Insentif
4.
Dapat memahami makna kata-kata abstrak dan kata konkrit.
- Kata abstrak :
Jika kata itu bermakna sifat, keadaan dan kegiatan.
Contoh : Ketulusan, Kebodohan, Kepandaian, Kecintaan dan
lain-lain.
- Kata konkrit :
Jika kata itu bermakna pada suatu benda, orang atau apa saja
yang mempunyai eksistensi.
Misalnya : Mobil, Motor, Rumah dan lain-lain. Contoh :
-
Ketulusan hatinya membuat dia akhirnya luluh.
-
Ayah baru membeli motor kemarin.
5.
Dapat memakai kata penghubung yang berpasangan secara
tepat.
Contoh :
-
Antara aku dan dia tidak terjadi apa-apa.
-
Baik menang maupun kalah itu sama saja.
-
Bukannya saya tidak percaya, tetapi saya agak ragu akan
kemampuannya.
6.
Dapat membedakan kata-kata umum dengan kata-kata khusus.
Contoh :
-
Kata umum : melihat,
-
Kata khusus : menatap, memandang, melotot, membelalak,
melirik, memperhatikan, menonton.
C.
Penggunaan Diksi Dalam
Kalimat
Dalam dunia Broadcasting: tidak ada seorangpun yang mampu
dengan jelas mendengar sebuah kalimat yang terdiri lebih dari 20 kata. Oleh
karena itu, naskah siaran dan berita yang kita buat harus ringkas dan ramping,
disini kami menggunakan istilah KISS (Keep It Short and Simple). Sebelum
menulis kita harus memikirkan gagasan atau ide secara utuh. Teknisnya, mulailah
dengan membuat catatan ide, ketahui dan pahami cerita dan peristiwanya,
pikirkan, katakan dan tuliskan.
Pada saat memikirkan ide tulisan, kita dapat membayangkan
seperti akan bercerita kepada seseorang yang kita kenal yang sedang berada di
hadapan kita. Sampaikanlah sesuatu yang akan kita ceritakan, dan tuliskan
persis seperti kita bercerita.[5]
Berdasarkan analisa penulis, Berikut kami sajikan
beberapa teknik menggunakan diksi yang baik :
1.
Ringkaslah kalimat yang
akan disampaikan, jangan boros kata-kata.
-
Bukan : Menteri keuangan
menyatakan akibat dari langkah tersebut ialah akan meningkatnya kondisi
keuangan sektor swasta dan memberikan peningkatan terhadap kepercayaan bisnis
& masyarakat secara umum
-
Tetapi : Menteri keuangan
mengatakan, langkah-langkah itu akan membantu keuangan sektor swasta
2.
Hindari pengulangan kata
yang tidak perlu.
Contoh : rencana yang akan
datang, alasannya karena, ramai berbondong-bondong, maju ke depan, mundur ke
belakang, peristiwa lalu yang telah dilewati dan sebagainya.
3.
Hindari penggunaan anak
kalimat. Bahasa radio adalah bahasa tutur sehari-hari. Dalam berbicara, kita
jarang menggunakan anak kalimat. Jika menemukan anak kalimat, pecahlah menjadi
beberapa kalimat. Semakin sederhana struktur kalimat, akan semakin baik.
-
Bukan : Rumania yang
gaungnya mulai tenggelam sejak ditinggalkan Gheorge Hagi, siap mengalahkan tim
manapun di Euro 2008 ini.
-
Tetapi : Sejak
ditinggalkan Gheorge Hagi, gaung Rumania seperti tenggelam. Namun, Rumania
tetap bertekad mengalahkan tim manapun di Euro 2008 ini.
4.
Hindari mendahulukan kata
kerja.
-
Bukan : Menuntut presiden
SBY membubarkan Ahmadiyah, demonstran dalam gelombang besar berunjuk rasa di
depan Istana Negara.
-
Tetapi : Demonstran
berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut pembubaran Ahmadiyah.
5.
Jangan menempatkan ‘kata
kerja penting’ di akhir kalimat, karena pembaca berita biasanya menurunkan
suaranya di akhir kalimat. Jika hal ini terjadi, makna kata kunci tadi akan
hilang.
-
Bukan : Demonstran
berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut Ahmadiyah dibubarkan.
-
Tetapi : Demonstran
berunjuk rasa di depan Istana Negara, menuntut pembubaran Ahmadiyah.
BAB III
KESIMPULAN
Diksi berarti pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam
penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu
(seperti yang diharapkan). Diksi berfungsi sebagai sarana mengaktifkan kegiatan
berbahasa (komunikasi) yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan maksud serta
gagasannya kepada orang lainPemakaian kata mencakup dua masalah pokok, yakni
pertama, masalah ketepatan memiliki kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan
atau ide. Kedua, masalah kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata
tersebut.
Agar usaha mendayagunakan teknik penceritaan yang menarik
lewat pilihan kata maka diksi yang baik harus :
1.
Tepat memilih kata untuk
mengungkapkan gagasan atau hal yang diamanatkan.
2.
Untuk memilih tepat
seorang pengarang harus mempunyai kemampuan untuk membedakan secara tepat
nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan
untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembacanya.
3.
Pilihan kata yang tepat
dan sesuai hanya mungkin kalau ia menguasai sejumlah besar kosa kata
(perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu pula menggerakkan
dan mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas dan
efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Annn-Bell,
Diksi dan Paragraf, pada Jumat,
09 April 2010
http://annn-bell.blogspot.com/2010/04/diksi-dan-paragraf.html diakses tanggal 05 Oktober 2011Drs.
Nursal Hakim, M.Pd, 2010, Kemampuan Berbahasa
Indonesia Dasar, Cendikia Insani : Pekanbaru.
Gorys Keraf, 1996, Diksi dan Gaya
Bahasa, PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
KBBI – Kamus Besar Bahasa Indonesia v1.1 (versi offline)
Teni Setiani, Kalimat
Efektif-Diksi-EYD, Paguyuban Diksatrasia, 31 Maret 2011 http://teni-setiani.blogspot.com/2011/03/kalimat-efektif-diksi-eyd.html diakses pada 05 Oktober 2011
![]() |
[1] Drs. Nursal Hakim, M.Pd, Kemampuan
Berbahasa Indonesia Dasar, Cendikia Insani : Pekanbaru. 2010. Hal. 17.
Lihat juga Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, PT Gramedia Pustaka Utama
: Jakarta. 1996. Hal. 23
http://annn-bell.blogspot.com/2010/04/diksi-dan-paragraf.html diakses tanggal 05 Oktober 2011
[5] Teni Setiani, Kalimat Efektif - Diksi – Eyd, Paguyuban Diksatrasia,
31 Maret 2011 http://teni-setiani.blogspot.com/2011/03/kalimat-efektif-diksi-eyd.html diakses pada 05 Oktober 2011

No comments:
Post a Comment