Pembinaan Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan elemen strategis dalam sebuah layanan program pendidikan. Kurikulum yang baik semestinya akan menghasilkan proses dan produk pendidikan yang baik. Sebaliknya, kurikulum yang kurang baik akan membuahkan proses dan hasil pendidikan yang kurang baik juga.
Melihat betapa penting peran kurikulum dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk merevisi, mengembangkan dan menyempurnakan desain kurikulum pendidikan Indonesia yang bisa menghasilkan proses dan produk pendidikan yang bermutu dan kompetitif. Usaha penyempurnaan kurikulum ini sudah dimulai sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Sampai saat ini, tercatat 10 kurikulum pernah dikembangkan dan dilaksanakan dalam sistem pendidikan nasional.
Namun fakta dilapangan menunjukkan bahwa sampai sekarang pendidikan kita masih compang-camping justru karena sering terjadi perubahan kurikulum. Setiap pergantian menteri maka pasti terjadi perubahan yang buntutnya malah membuat bingung pelaku pendidikan. Padahal kurikulum seharusnya tidak boleh berubah secara radikal, ibaratnya pejabat berikutnya tinggal melanjutkan apa yang telah ditinggalkan oleh pendahulunya.
Fakta terkini tentang perubahan kurikulum adalah pergantian dari KBK ke KTSP. Pergantian kurikulum ini melahirkan beberapa masalah yang perlu mendapatkan perhatian. Pertama ketidaksiapan guru sebagai pelaksana di lapangan dalam menjalankan kurikulum yang berbuah pada tidak maksimalnya proses maupun hasil pendidikan. Kedua standar isi pada KTSP yang yang secara konseptual masih perlu untuk direvisi atau diperjelas, karena menimbulkan kerancuan pemahaman yang pada akhirnya akan menyulitkan pengembangan kurikulum itu sendiri.[1]

BAB II
PEMBAHASAN
Pembinaan Kurikulum dalam Pendidikan
A.      Tentang Pembinaan Kurikulum
Kurikulum secara umum didefinisikan sebagai suatu rencana/ plan Yang di kembangkan untuk memperlancar proses belajar-mengajar dengan arahan atau bimbingan sekolah serta anggota stafnya. Selanjutnya Pembinaan Kurikulum adalah proses untuk mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum yang sedang dilaksanakan.[2]
Pembinaan kurikulum adalah menjaga dan mempertahankan agar pelaksanaan Kurikulum sesuai dengann ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kurikulum ideal atau potensial, dengan kata lain upaya menyesuaikan kurikulum aktual dengan kurikulum potensial sehingga tidak terjadi kesenjangan.
Sedangkan Pengembangan Kurikulum adalah proses yang mengaitkan satu komponen kurikulum dengan lainya untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.
Pengembangan Kurikulum adalah upaya meningkatkan dalam bentuk nilai tambah dari apa yang telah di laksanakan sesuai dengan kurikulum potensial dan merupakan tahap lanjutan dari kegiatan Pembinaan.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut maka pada hakekatnya, pembinaan dan Pengembangan kurikulum tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum yang di lakukan dapat bersifat dasar dan bersifat teknis. Bersifat dasar jika kegiatan tersebut terjadi pada kurikulum itu sendiri. Bersifat teknis jika kegiatan tersebut muncul pada waktu membahas pelaksanaan kurikulum di sekolah.
Secara konseptual Dalam Konsep ini dapat kita lihat poin-poin yang jelas berbeda dengan dua konsep sebelumnya seiring dengan perbedaan penekanan arti dan tujuan yang ada pada masing-masing Konsep. Pada konsep ini lebih cenderung pada :
1.      Upaya mempertahankan dan menyempurnakan pelaksanaan kurikulum yang ada.
2.      Upaya yang di lakukan dapat bersifat Dasar dan bersifat teknis
Dari sini dapat kita ambil kesimpulan adanya tindak lanjut dari dua konsep sebelumnya, Yakni setelah kita mendapatkan lalu kita praktekkan sebagai bentuk upaya untuk memepertahankan dari apa yang telah kita dapatkan lalu kita melakukan suatu pembinaan.
Pembinaan kurikulum merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi proses pendidikan di suatu negara. Di Indonesia, pembinaan kurikulum dilaksanakan secara:
1.        Struktural
Pembinaan kurikulum model ini, dilaksanakan bertahap. Pelaksanaan tersebut berjalan dari pusat > provinsi > kab/ kota > kecamatan > Satuan Pendidikan. Namun seringkali dalam pelaksanaannya, para tutor yang mengikuti pelatihan di tingkat pusat tidak mampu menurunkan materi yang didapatnya secara baik kepada daerah/ provinsi. Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti faktor kesehataN, kesibukan, prioritas, dan lain sebagainya. Selain tahap pusat > provinsi, pada tahap selanjutnya pun bisa terjadi hal-hal serupa sehingga menimbulkan perbedaan persepsi antar daerah, kab/ kota, bahkan antar satuan pendidikan.

2.        Fungsional
Pembinaan kurikulum secara fungsional, tahapannya hampir sama dengan pembinaan kurikulum secara struktural namun dalam pembinaan kurikulum secara fungsional hanya dilakukan oleh lembaga dan/atau orang yang berfungsi membina dalam pembinaan dan pengimplementasian kurikulum yang tentunya berbidang kurikulum.
3.        Kolegial
Pembinaan kurikulum secara kolegial, dilaksanakan pada pembinaan profesi. Model pembinaan ini dilakukan antar mereka yang seprofesi (antar rekan/teman) yang setara dan berlangsung terus menerus (kolegial). Dalam pendidikan, interaksi tersebut dapat terjadi pada Pusat Kegiatan Guru (PKG), Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), ataupun pada Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS).

4.        Personal
Pembinaan kurikulum secaral personal, tiap individu berupaya meningkatkan kemampuan, kompetensi, dan profesionalismenya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan belajar sendiri, berlangganan majalah atau jurnal, mengikuti pelatihan, mengikuti penataran. Pembinaan kurikulum secara personal bisa juga dilakukan dengan menganalisa serta mencari solusi terhadap berbagai persoalan seputar peserta didik maupun guru yang berdasar pada pengalaman pribadi.

B.       Kebijakan dan Prosedur Pembinaan Kurikulum
1.         Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum
Dalam upaya melaksanakan pendidikan nasional, pemerintah bersama masyarakat telah berusaha melakukan pembinaan dalam berbagai aspek, antara lain melalui program pembinaan dan pengembangan kurikulum dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. untuk itu ditempuh kebijakan sebagai berikut:[3]
1)        Meningkatkan pembudayaan sikap hidup sesuai dengan nilai-nilai pancasila ditempuh langkah-langkah:
a.    Melanjutkan usaha peningkatan pendidikan Pancasila
b.    Peningkatan pendidikan agama pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
c.    Meningkatkan pembinaan kesiswaan melalui jalur OSIS, latihan kepemimpinan siswa dan kegiatan ekstrakurikuler.
2)        Meningkatkan mutu kemampuan, kecerdasan dan ketrampilan peserta didik, ditempuh langkah-langkah:
a.    Pemantapan kurikulum melalui penyempurnaan bahan/materi pelajaran untuk lebih meningkatkan relevansi pendidikan dengan perkembangan iptek serta tuntutan kebutuhan.
b.    Melanjutkan berbagai usaha penyempurnaan untuk menunjang program dan KBM baik metode, alat/sarana sehingga meningkatkan peran dan minat siswa.
c.    Meningkatkan pembinaan bidang studi pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. supervisi KBM dan evaluasi pendidikan dalam rangka peningkatan mutu.
d.   Meningkatkan kualifikasi tenaga kependidikan.
e.    Pengadaan alat/sarana dan prasarana pendidikan berdasar standardisasi sesuai tuntutan kurikulum.
f.     Meningkatkan pembinaan sekolah swasta antara lain melalui penyempurnaan sistem dan pelaksanaan akreditasi secara reguler.
g.    Meningkatkan dan lebih memeratakan jumlah penerima beasiswa bagi yang berprestasi.
3)        Meningkatkan relevansi pendidikan dengan perkembangan iptek, ditempuh langkah-langkah:[4]
a.    Melanjutkan pengadaan alat dan ruang keterampilan, penggunaan sumber daya setempat dalam pelaksanaan PBM serta memantapkan pelaksanaan kurikulum muatan lokal.
b.    Pengadaan peralatan praktik dilanjutkan dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi.
c.    Peningkatan dan pengembangan pendidikan kejuruan sesuai dengan potensi sumber daya dan kebutuhan daerah.
4)        Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan pendidikan ditempuh langkah-langkah:
a.    Peningkatan koordinasi antar satuan kerja pengelola pendidikan baik di pusat maupun di daerah.
b.    Pemantapan LPTK dan penyempurnaan program pendidikan guru. Di samping itu dilakukan peningkatan fungsi BPG.
c.    Pengembangan ikatan kerja sama antara sekolah kejuruan dengan “institusi pasangan” seperti lembaga, industri atau perusahaan.
d.   Peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan yang meliputi unsur-unsur perencanaan, pelaksanaan program, pemantauan serta pengawasan melekat, peningkatan sistem informasi.

2.         Permasalahan Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum
1)        Permasalahan yang berkaitan dengan konsep kurikulum
a.         Kurikulum tertinggal dari kemajuan iptek yang sangat pesat perkembangannya.
b.        Sulit mengadakan antisipasi terhadap perkembangan kehidupan masyarakat yang selalu berubah.
c.         Penyusunan kurikulum standar mengalami kesulitan karena beragamnya budaya lokal.
d.        Perbedaan tingkat mutu pendidikan yang besar.
e.         Belum sinkronnya antara perencanaan pendidikan dengan kebutuhan dan tuntutan pembangunan.
f.         Tidak mudah memilih materi dan komposisi kurikulum yang tepat untuk mendukung berbagai tujuan yang telah ditetapkan sesuai kemampuan dan perkembangan jiwa anak.
2)        Permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum
a.         Besarnya sasaran pembinaan pendidikan (sekolah) tidak mudah mencukupi kebutuhan sarana pendukung untuk pelaksanaan kurikulum.
b.        Besarnya jumlah guru yang tersebar menyulitkan pembinaan yang intensif yang merata.
c.         Kurangnya jumlah dan mutu tenaga supervisi.
d.        Sistem penataran guru dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan kurikulum belum mantap.
e.         Belum terciptanya kondisi yang kondusif yang memberikan kemungkinan para pelaksana pendidikan untuk melaksanakan tugasnya secara kreatif, inovatif dan bertanggung jawab.

3.         Pembinaan Kurikulum di Sekolah
Secara sederhana pembinaan kurikulum adalah upaya yang dilakukan oleh staf sekolah untuk menjaga dan mempertahankan agar kurikulum tetap berjalan sebagaimana seharusnya.[5] Staf sekolah yang dimaksud meliputi kepala sekolah, guru, tenaga bukan guru (seperti pembimbing). Sedangkan kurikulum yang dimaksud adalah kurikulum potensial yakni semua program pendidikan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan. Dengan demikian pembinaan kurikulum seperti dimaksudkan di atas tidak lain mengusahakan pelaksanaan kurikulum sesuai dengan program dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Pembinaan ini penting mengingat dalam pelaksanaan kurikulum tidak mustahil dihadapkan dengan sejumlah kendala yang mengakibatkan apa yang dilaksanakan secara nyata tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Artinya terdapat kesenjangan antara yang dilaksanakan dengan konsep idealnya. Dengan demikian tujuan pembinaan kurikulum adalah meniadakan/ memperkecil kesenjangan antara kurikulum potensial dengan kurikulum aktual.

4.         Ruang Lingkup Pembinaan Kurikulum di Sekolah
Ruang lingkup pembinaan kurikulum di sekolah mencakup semua komponen kurikulum terutama yang mempengaruhi anak didik. Adanya peran dan posisi yang berbeda antara kepala sekolah dengan guru, maka ruang lingkup pembinaan kurikulum dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni pembinaan kurikulum oleh kepala sekolah dan pembinaan oleh guru.
Kepala sekolah adalah penanggung jawab pelaksanaan kurikulum di sekolah yang dipimpinnya. Sehubungan dengan itu maka peranan kepala sekolah tidak hanya berperan sebagai pembina kurikulum tapi juga menjadi koordinator pembinaan kurikulum. Lingkup pembinaan yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah antara lain:
1)        Pencapaian tujuan kelembagaan/sekolah.
2)        Efektifitas dan efisiensi strategi pelaksanaan kurikulum.
3)        Efektifitas dan efisiensi penggunaan sarana kurikuler.
4)        Menilai keberhasilan upaya pembinaan kurikulum yang dilaksanakan staf.
Adapun lingkup pembinaan kurikulum oleh para guru mencakup antara lain:
1)        Proses belajar mengajar atau hasil belajar
2)        Pelaksanaan bimbingan penyuluhan
3)        Pembinaan administrasi sekolah
4)        Pembinaan pribadi
5.         Guru dan Upaya Pembinaan Kurikulum
Upaya pembinaan kurikulum yang dilakukan guru bertujuan meningkatkan kualitas proses pengajaran dan hasil belajar yang dicapai siswa. Oleh sebab itu aspek pembinaan mencakup proses belajar mengajar termasuk penilaian hasil belajar, bimbingan dan penyuluhan, administrasi guru, dan pembinaan kompetensi professional guru itu sendiri.
Proses belajar mengajar adalah operasionalisasi dari kurikulum. Upaya yang dapat dilakukan antara lain:
1)        Menelaah kurikulum
2)        Menyusun satuan pelajaran/ rencana pembelajaran
3)        Penyediaan sumber/alat fasilitas belajar
4)        Penilaian hasil belajar

6.         Peranan Kepala Sekolah dalam Pembinaan Kurikulum
Peranan kepala sekolah dalam pembinaan kurikulum sangat menentukan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di sekolahnya. Pendidikan dikatakan berjalan apabila kurikulum potensial dilaksanakan di sekolah oleh semua staf, dan siswa yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu kepala sekolah sebagai administrator pendidikan harus lebih banyak berfungsi sebagai koordinator pelaksanaan kurikulum. Fungsi-fungsi manajemen pelaksanaan kurikulum harus menjadi landasan tugas utama kepala sekolah. Ia harus merencanakan secara seksama bagaimana kurikulum dapat diwujudkan, mengorganisasi semua sumber yang diperlukan, serta menilai dan memantau pelaksanaan kurikulum.
Dalam upaya pembinaan kurikulum ada sejumlah tugas dan tanggung jawab kepala sekolah yang dapat diguguskan menjadi lima kategori yakni; (a) pembinaan guru dan staf lainnya (ketenagaan), (b) pembinaan kesiswaan, (c) pembinaan sistem pengajaran, (d) pembinaan sarana pengajaran, (e) pembinaan lingkungan pendidikan dan pengajaran.

BAB III
KESIMPULAN
Pembinaan kurikulum adalah kegiatan mempertahankan dan menjaga pelaksanaan kurikulum yang ada dengan maksut untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Dari definisi dan pendapat para ahli dapat di simpulkan Bahwa pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan di dasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar-mengajar yang lebih baik atau Pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langlah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang di lakukan selama periode waktu tertentu.
Pembinaan kurikulum merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi proses pendidikan di suatu negara. Di Indonesia, pembinaan kurikulum dilaksanakan secara Struktural, Fungsional, Kolegial dan Personal.
Ruang lingkup pembinaan kurikulum di sekolah mencakup semua komponen kurikulum terutama yang mempengaruhi anak didik. Adanya peran dan posisi yang berbeda antara kepala sekolah dengan guru, maka ruang lingkup pembinaan kurikulum dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni pembinaan kurikulum










DAFTAR PUSTAKA

Aris Kurniawan, Masalah Pendidikan Di Indonesia: Dampak Perubahan Kurikulum, InfoDiknas.Com Informasi Pendidikan Nasional, http://www.infodiknas.com (diakses 10 Juli 2011)
Alim Online, Book Report: Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah (Dr. H. Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah), http://www.alim-online.blogspot.com (diakses tanggal 12 Juli 2011)
Dr. H. Nana Sudjana, 2008, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung : Sinar Baru Algensido.
Dr. Wina Sanjaya, 2009, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Prof. D.R. S. Nasution, M.A, 1991, Pengembangan Kurikulum. Bandung : P.T. Citra Aditiya Bakti.










[1] Aris Kurniawan, Masalah Pendidikan Di Indonesia: Dampak Perubahan Kurikulum, InfoDiknas.Com Informasi Pendidikan Nasional, http://www.infodiknas.com (diakses 10 Juli 2011)
[2] Dr. Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, cet. Ke-2 Februari 2009, hal. 34
[3] Dr. H. Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung : Sinar Baru Algensido, 2008.
[4] Ibid
[5] Alim Online, Book Report: Pembinaan Dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah (Dr. H. Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah), http://www.alim-online.blogspot.com (diakses tanggal 12 Juli 2011)

No comments:

Post a Comment