KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT. Tuhan yang telah menurunkan Al Quran kepada baginda Nabi agung Muhammad SAW agar manusia berpikir dan berpedoman. Sholawat salam semoga selalu tercurahkan kehadirat Nabi Besar Muhammad
SAW yang telah menyampaikan ayat-ayat Allah sehingga menyampaikan agama Islam
kepada umat manusia. Penulis panjatkan syukur kepada Allah yang telah
memberikan kesehatan kepada penulis sehingga makalah “Kerajaan –
Kerajaan Islam di Indonesia Seperti Kerajaan Perlak, Kerajaan Pasai dan
Kesulthanan Aceh” yang ada di
tangan pembaca ini dapat selesai tanpa ada suatu halangan yang berarti.
Terimakasih penulis haturkan kepada Ibu Khairiah S.Ag, M.Ag, selaku
dosen Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Teknik Elektro Prodi Telekomunikasi
pada Fakultas Sains dan Teknologi, yang
tak henti-henti membimbing serta dengan
tulus membagikan ilmunya kepada penulis. Terimaksih yang tak terhingga pula penulis
haturkan kepada semua teman-teman Teknik
Elektro Prodi
Telekomunikasi yang selalu memberikan motivasi dan masukan kepada penulis.
Sahabat-sahabat yang tak mampu penulis sebutkan namanya satu persatu,
terimakasih atas kritikan-kritikan yang membangun.
Makalah ini, selain disusun guna memenuhi tugas terstruktur Mata
Kuliah Sejarah Islam Asia Tenggara juga diharapkan dapat memberikan informasi tambahan
kepada para pembaca pada umumnya dan kepada penulis sendiri khususnya tentang esensi
pembinaan kurikulum pendidikan.
Akhirnya penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang ada dalam
makalah ini. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan guna
penyempurnaan makalah dimasa mendatang.
Pekanbaru, 13
Juli 2011
Triyono
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Islam
adalah agama di Indonesia yang paling banyak pemeluknya, bagaimana islam dapat
masuk ke Indonesia? bagaimana kah sejarah islam di Indonesia ini? Silahkan baca
artikel sejarah islam kerajaan parlak di bawah ini Agama islam masuk ke
Indonesia secara besar besaran terjadi sekitar abad XIV dan XV, masuk dan
berkembanganya islam di Indonesia ini juga tidak lepas dari kerajaan-kerajaan
islam di Indonesia, seperti Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan Perlak,
Kesulthanan Aceh Malaka, Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, Ternate dan
lain-lain.
Ada
banyak kerajaan Islam di Indonesia. Tentu ini adalah salah satu faktor yang
menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Dari sekian banyak
kerajaan, kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak yang
berlokasi di Aceh Timur, daerah Perlak di Aceh sekarang. Kerajaan Perlak muncul
mulai tahu 840 M sampai tahun 1292 M. Bandingkan dengan kerajaan Samudera Pasai
yang sama-sama mengambil lokasi di Aceh. Berdiri tahun 1267, Kerajaan ini
akhirnya lenyap tahun 1521. Entah mengapa dalam buku-buku pelajaran, tertulis
secara jelas kerajaan Samudera Pasai-lah kerajaan Islam yang pertama di
Indonesia. Sebuah kesengajaan atau sebuah kebetulan ? Berbeda dengan
kesepakatan yang pasti tentang daerah yang pertama kali dimasuki Islam ataupun
kerajaan Islam pertama di Jawa, kerajaan Islam pertama di Indonesia masih
simpang siur kepastiannya.
B.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui kerajaan – kerajaan yang masuk ke Indonesia
2.
Untuk
mengetahui sejarah kerajaan perlak,kerajaan pasai dan kesulthanan Aceh,
bagaimana pemerintahan dan pada masa
kerajaan itu serta mengetahui silsilah kerajaan-kerajaan tersebut.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kerajaan
Perlak
1.
Sejarah
Kesultanan Perlak berdiri pada
tahun 840 dan berakhir pada tahun 1292. Proses berdirinya tidak terlepas dari
pengaruh Islam di wilayah Sumatera. Sebelum Kesultanan Perlak berdiri, di
wilayah Perlak sebenarnya sudah berdiri Negeri Perlak yang raja dan rakyatnya
merupakan keturunan dari Maharaja Pho He La (Meurah Perlak Syahir Nuwi) serta
keturunan dari pasukan-pasukan pengikutnya. Pada tahun 840 ini, rombongan
berjumlah 100 orang dari Timur Tengah menuju pantai Sumatera yang dipimpin oleh
Nakhoda Khilafah. Rombongan ini bertujuan untuk berdagang sekaligus membawa
sejumlah da‘i yang bertugas untuk membawa dan menyebarkan Islam ke Perlak.
Dalam waktu kurang dari setengah abad, raja dan rakyat Perlak meninggalkan
agama lama mereka (Hindu dan Buddha), yang kemudian secara sukarela
berbondong-bondong memeluk Islam. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa
salah seorang anak buah dari Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja‘far
Shadiq dikawinkan dengan Makhdum Tansyuri, yang merupakan adik dari Syahir
Nuwi, Raja Negeri Perlak yang berketurunan Parsi. Dari buah perkawinan mereka
lahirlah Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Shah, yang menjadi sultan
pertama di Kesultanan Perlak sejak tahun 840. Ibu kotanya Perlak yang semula
bernama Bandar Perlak kemudian diubah menjadi Bandar Khalifah sebagai bentuk
perhargaan terhadap jasa Nakhoda Khalifah.
2.
Masa
Permusuhan Sunni-Syiah
Sejarah keislaman di Kesultanan
Perlak tidak luput dari persaingan antara kelompok Sunni dan Syiah. Perebutan
kekuasaan antara dua kelompok Muslim ini menyebabkan terjadinya perang saudara
dan pertumpahan darah. Silih berganti kelompok yang menang mengambil alih
kekuasaan dari tangan pesaingnya. Aliran Syi‘ah datang ke Indonesia melalui para
pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia. Mereka masuk pertama kali melalui
Kesultanan Perlak dengan dukungan penuh dari dinasti Fatimiah di Mesir. Ketika
dinasti ini runtuh pada tahun 1268, hubungan antara kelompok Syi‘ah di pantai
Sumatera dengan kelompok Syi‘ah di Mesir mulai terputus. Kondisi ini
menyebabkan konstelasi politik Mesir berubah haluan. Dinasti Mamaluk
memerintahkan pasukan yang dipimpin oleh Syaikh Ismail untuk pergi ke pantai
timur Sumatra dengan tujuan utamanya adalah melenyapkan pengikut Syi‘ah di
Kesultanan Perlak dan Kerajaan Samudera Pasai.
Sebagai informasi tambahan bahwa
raja pertama Kerajaan Samudera Pasai, Marah Silu dengan gelar Malikul Saleh
berpindah agama, yang awalnya beragama Hindu kemudian memeluk Islam aliran
Syiah. Oleh karena dapat dibujuk oleh Syaikh Ismail, Marah Silu kemudian
menganut paham Syafii. Dua pengikut Marah Silu, Seri Kaya dan Bawa Kaya juga
menganut paham Syafii, sehingga nama mereka berubah menjadi Sidi Ali Chiatuddin
dan Sidi Ali Hasanuddin. Ketika berkuasa Marah Silu dikenal sebagai raja yang
sangat anti terhadap pemikiran dan pengikut Syi‘ah. Aliran Sunni mulai masuk ke
Kesultanan Perlak, yaitu pada masa pemerintahan sultan ke-3, Sultan Alaiddin
Syed Maulana Abbas Shah. Setelah ia meninggal pada tahun 363 H (913 M), terjadi
perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni, yang menyebabkan kesultanan dalam
kondisi tanpa pemimpin. Pada tahun 302 H (915 M), kelompok Syiah memenangkan
perang.
Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali
Mughat Shah dari aliran Syiah kemudian memegang kekuasaan kesultanan sebagai
sultan ke-4 (915-918). Ketika pemerintahannya berakhir, terjadi pergolakan
antara kaum Syiah dan Sunni, hanya saja untuk kali ini justru dimenangkan oleh
kelompok Sunni. Kurun waktu antara tahun 918 hingga tahun 956 relatif tidak
terjadi gejolak yang berarti. Hanya saja, pada tahun 362 H (956 M), setelah
sultan ke-7, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat
meninggal, terjadi lagi pergolakan antara kelompok Syiah dan Sunni selama
kurang lebih empat tahun. Bedanya, pergolakan kali ini diakhiri dengan adanya
itikad perdamaian dari keduanya. Kesultanan kemudian dibagi menjadi dua bagian.
Pertama, Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah
(986 – 988). Kedua, Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum
Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023). Kedua kepemimpinan
tersebut bersatu kembali ketika salah satu dari pemimpin kedua wilayah
tersebut, yaitu Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal. Ia meninggal ketika
Perlak berhasil dikalahkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Kondisi perang inilah yang
membangkitkan semangat bersatunya kembali kepemimpinan dalam Kesultanan Perlak.
Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat, yang awalnya hanya
menguasai Perlak Pedalaman kemudian ditetapkan sebagai Sultan ke-8 pada
Kesultanan Perlak. Ia melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun
1006. Sultan ke-8 sebenarnya berpaham aliran Sunni, namun sayangnya belum
ditemukan data yang menyebutkan apakah terjadi lagi pergolakan antar kedua
aliran tersebut.
3.
Silsilah
Sebelum
berdirinya Kesultanan Perlak, di wilayah Negeri Perlak sudah ada rajanya, yaitu
Meurah Perlak Syahir Nuwi. Namun, data tentang raja-raja Negeri Perlak secara
lengkap belum ditemukan. Sedangkan daftar nama sultan yang pernah berkuasa di
Kesultanan Pelak adalah sebagai berikut:
a.
Sultan
Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840-864)
b.
Sultan
Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Shah (864-888)
c.
Sultan
Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888-913)
d.
Sultan
Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915-918)
e.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928-932)
f.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932-956)
g.
Sultan
Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956-983)
h.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986-1023)
i.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023-1059)
j.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059-1078)
k.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078-1109)
l.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109-1135)
m.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135-1160)
n.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160-1173)
o.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173-1200)
p.
Sultan
Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200-1230)
q.
Sultan
Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230-1267)
r.
Makhdum
Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267-1292)
Catatan:
Sultan-sultan di atas dibagi menurut dua dinasti, yaitu dinasti Syed Maulana
Abdul Azis Shah dan dinasti Johan Berdaulat, yang merupakan keturunan dari
Meurah Perlak asli (Syahir Nuwi).
4.
Periode Pemerintahan
Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum
Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat, melakukan politik
persahabatan dengan negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya,
yaitu: Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan
Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja Kerajaan
Samudera Pasai, al-Malik al-Saleh. Kesultanan Perlak berakhir setelah Sultan
yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal
pada tahun 1292. Kesultanan Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera
Pasai di bawah kekuasaan sultan Samudera Pasai yang memerintah pada saat itu,
Sultan Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari al-Malik
al-Saleh.
5.
Wilayah
Kekuasaan
Sebelum bersatu dengan Kerajaan
Samudera Pasai, wilayah kekuasaan Kesultanan Perlak hanya mencakup kawasan
sekitar Perlak saja. Saat ini, kesultanan ini terletak di pesisir timur daerah
aceh yang tepatnya berada di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh
Darussalam, Indonesia.
6.
Kehidupan Sosial-Budaya
Perlak dikenal dengan kekayaan
hasil alamnya yang didukung dengan letaknya yang sangat strategis. Apalagi,
Perlak sangat dikenal sebagai penghasil kayu perlak, yaitu jenis kayu yang
sangat bagus untuk membuat kapal. Kondisi semacam inilah yang membuat para
pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia tertarik untuk datang ke daerah ini.
Masuknya para pedagang tersebut juga sekaligus menyebarkan ajaran Islam di
kawasan ini. Kedatangan mereka berpengaruh terhadap kehidupan sosio-budaya
masyarakat Perlak pada saat itu. Sebab, ketika itu masyarakat Perlak mulai
diperkenalkan tentang bagaimana caranya berdagang. Pada awal abad ke-8, Perlak
dikenal sebagai pelabuhan niaga yang sangat maju. Model pernikahan percampuran
mulai terjadi di daerah ini sebagai konsekuensi dari membaurnya antara
masyarakat pribumi dengan masyarakat pendatang. Kelompok pendatang bermaksud
menyebarluaskan misi Islamisasi dengan cara menikahi wanita-wanita setempat.
Sebenarnya tidak hanya itu saja, pernikahan campuran juga dimaksudkan untuk mengembangkan
sayap perdagangan dari pihak pendatang di daerah ini.
B.
Kerajaan
Samudera Pasai
Kerajaan
Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di
Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M.
Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam
raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat
reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan
Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di antara makam raja-raja
tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh, Raja Pasai pertama. Malik
al-Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan
sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326
M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak,
dengan raja pertama Malik al-Saleh.
Seorang
pengembara Muslim dari Maghribi, Ibnu Bathutah sempat mengunjungi Pasai tahun
1346 M. ia juga menceritakan bahwa, ketika ia di Cina, ia melihat adanya kapal
Sultan Pasai di negeri Cina. Memang, sumber-sumber Cina ada menyebutkan bahwa
utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi
lain juga menyebutkan bahwa, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India
Barat pada tahun 1282 M. Ini membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup
luas dengan kerajaan luar.
Pada
masa jayanya, Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu,
dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam,
Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang
besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini
digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan,
Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.
Seiring
perkembangan zaman, Samudera mengalami kemunduran, hingga ditaklukkan oleh
Majapahit sekitar tahun 1360 M. Pada tahun 1524 M ditaklukkan oleh kerajaan
Aceh.
a.
Silsilah
Ø
Sultan
Malik al-Saleh (1267-1297 M)
Ø
Sultan
Muhammad Malikul Zahir (1297-1326 M)
Ø
Sultan
Ahmad Laidkudzahi
Ø
Sultan
Zainal Abidin Malik al-Zahir (1383-1405 M)
Ø
Sultan
Shalahuddin (1405-1412 M)
b.
Periode
Pemerintahan
Rentang masa kekuasan Samudera
Pasai berlangsung sekitar 3 abad, dari abad ke-13 hingga 16 M.
c.
Wilayah
Kekuasaan
Wilayah
kekuasaan Pasai mencakup wilayah Aceh ketika itu.
d.
Kehidupan
Sosial-Budaya
Telah disebutkan di muka bahwa,
Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam.
Sebagai kerajaan besar, di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang
menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil
memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis karya
mereka dalam bahasa Melayu. Inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Jawi,
dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat
Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360
M. HRP menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara.
Bahasa Melayu tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf
al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya.
Sejalan dengan itu, juga
berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Kitab ini
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas
permintaan dari Sultan Malaka. Informasi di atas menceritakan sekelumit peran
yang telah dimainkan oleh Samudera Pasai dalam posisinya sebagai pusat tamadun
Islam di Asia Tenggara pada masa itu.
C.
Kesultanan
Aceh
Kesultanan
Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di provinsi
Aceh, Indonesia. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu
kota Kutaraja (Banda Aceh) dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat
Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8
September 1507. Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah
mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena
kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer,
komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang
teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan,
hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.
a.
Sejarah
Kesultanan Aceh didirikan oleh
Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Pada awalnya kerajaan ini berdiri
atas wilayah Kerajaan Lamuri, kemudian menundukan dan menyatukan beberapa
wilayah kerajaan sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya
pada tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan
Aceh diikuti dengan Aru.
Pada tahun 1528, Ali Mughayat
Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian
berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin
Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1568.
b.
Masa
kejayaan
Sultan
Iskandar Muda
Kesultanan Aceh mengalami masa keemasan
pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636). Pada masa
kepemimpinannya, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan Portugis dari
selat Malaka. Kejadian ini dilukiskan dalam La Grand Encyclopedie bahwa pada
tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sunda
(Sumatera, Jawa dan Kalimantan) serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu.
Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang
melayari Lautan Hindia. Pada tahun 1586, kesultanan Aceh melakukan penyerangan
terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal
perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi
Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah berhasil mengepung
Melaka dari segala penjuru, namun penyerangan ini gagal dikarenakan adanya
persekongkolan antara Portugis dengan kesultanan Pahang.
Dalam lapangan pembinaan
kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama,
yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti
Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma'rifati al-U Adyan, Syamsuddin
al-Sumatrani dalam bukunya Mi'raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin Al-Raniri
dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya
Mi'raj al-Tulabb Fi Fashil.
c.
Kemunduran
Masjid
Raya Baiturrahman, Banda Aceh
Kemunduran Kesultanan Aceh
bermula sejak kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641. Kemunduran
Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah makin menguatnya
kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya
wilayah Minangkabau, Siak, Tapanuli dan Mandailing, Deli serta Bengkulu kedalam
pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan
kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan.
Traktat London yang
ditandatangani pada 1824 telah memberi kekuasaan kepada Belanda untuk menguasai
segala kawasan British/Inggris di Sumatra sementara Belanda akan menyerahkan
segala kekuasaan perdagangan mereka di India dan juga berjanji tidak akan
menandingi British/Inggris untuk menguasai Singapura.
Pada akhir November 1871,
lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana disebutkan dengan
jelas "Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap
perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera.
Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan." Sejak
itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri
Belanda maupun Batavia. Setelah melakukan peperangan selama 40 tahun,
Kesultanan Aceh akhirnya jatuh dan digabungkan sebagai bagian dari negara
Hindia Timur Belanda. Pada tahun 1942, pemerintahan Hindia Timur Belanda jatuh
di bawah kekuasan Jepang. Pada tahun 1945, Jepang dikalahkan Sekutu, sehingga
tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan di ibukota Hindia Timur Belanda (Indonesia)
segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Aceh menyatakan
bersedia bergabung ke dalam Republik indonesia atas ajakan dan bujukan dari Soekarno
kepada pemimpin Aceh Tengku Muhammad Daud Beureueh saat itu[rujukan?].
d.
Perang
Aceh
Tuanku
Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat, sultan Aceh yang terakhir.
Perang Aceh dimulai sejak Belanda
menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa
ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang
kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan
1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh.
Dr. Christiaan Snouck Hurgronje,
seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan
kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda
agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran
ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, Joannes Benedictus van Heutsz
dinyatakan sebagai gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendrikus Colijn,
merebut sebagian besar Aceh.
Sultan Muhammad Daud akhirnya
menyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak
serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh
akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah
direbut Belanda.
e.
Sultan
Aceh
Sultan Aceh merupakan penguasa /
raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah /
Sultan Wanita. Daftar Sultan yang pernah berkuasa di Aceh dapat dilihat lebih
jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.
f.
Gelar
Ø
Teungku
Ø
Tuanku
Ø
Teuku
Ø
Cut
Ø
Laksamana
Ø
Panglima
Sagoe
Ø
Uleebalang
Ø
Meurah
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kerajaan
Perlak berdiri tahun 840 M dengan
rajanya yang pertama, Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Sultan
Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah merupakan sultan yang beralirah paham
Syiah. Aliran Syi’ah datang ke Indonesia melalui para pedagang dari Gujarat,
Arab, dan Persia. Mereka masuk pertama kali melalui Kesultanan Perlak dengan
dukungan penuh dari dinasti Fatimiah di Mesir. Ketika dinasti ini runtuh pada
tahun 1268, hubungan antara kelompok Syi’ah di pantai Sumatera dengan kelompok
Syi’ah di Mesir mulai terputus.
Kerajaan
Pasai didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis
keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung
Geudong, Aceh Utara. Seiring perkembangan zaman, Samudera mengalami kemunduran,
hingga ditaklukkan oleh Majapahit sekitar tahun 1360 M. Pada tahun 1524 M
ditaklukkan oleh kerajaan Aceh.
Kesultanan
Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh)
dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada
pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Perang Aceh
dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873
setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut
wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi
gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah
gagal merebut Aceh.
DAFTAR
PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai: 30 Maret 2012.
Ridwanaz,
february 15, 2012, http://ridwanaz.com/islami/sejarah-islam/sejarah-agama-islam-di-indonesia-kerajaan-perlak:
30 Maret 2012.
http://acehpedia.org/Kerajaan_Samudera_Pasai: 30 Maret 2012.
Azka
Aulia Al-adha, 09 /
16 / 2011,http://www.scribd.com/doc/65195305/21/Kerajaan-Samudra-Pasai: 30 Maret 2012.
Sangat lengkap penjelasan tentang Kerajaan Islam di Indonesia yang sedang saya cari... Terima kasih
ReplyDeleteOce, Terimakasih juga telah mengunjungi Blog saya. :)
ReplyDeleteSuatu kontribusi yg bagus.Thank..........
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete