ksehatan Mental


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang masih memberikan nikmat serta hidayahNya kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan tanpa halangan yang berarti. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menyampaikan firman ayat-ayat Allah kepada seluruh umat manusia sehingga kita mampu membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Puji syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat kepada Penulis sehingga makalah “Fungsi dan Peran Tasawuf dalam Kesehatan Mental” ini dapat selesai tanpa adanya halangan yang berarti.
Terimakasih yang sebesar-besarnya penulis haturkan kepada Bapak Dr. Khairunnas Rajab, MA, selaku dosen Mata Kuliah Akhlak Tasawuf Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, yang tak henti-henti mengarahkan serta mengajari penulis dalam banyak hal. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada semua teman-teman FTK/PBA IV A yang tak henti-henti memberikan bantuan  kepada penulis, baik berupa materi maupun spirit. Teman-teman yang tak pernah lelah menyemangati penulis guna pendidikan yang akan membawa kepada kehidupan yang lebih baik. Ayah dan Ibu yang tak henti-henti mendo’akan untuk putra-putrinya tercinta. Ayah dan ibu dirumah, terimakasih untuk do’a restunya.
Akhirnya penulis menyadari benar bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

Pekanbaru, 02 Juni 2011
Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                                                                           ii
DAFTAR ISI                                                                                                         iii
BAB      I      PENDAHULUAN.................................................................          1
BAB      II    PEMBAHASAN....................................................................          2
Fungsi dan Peran Tasawuf dalam Kesehatan Mental.............          2
A.           Pengertian Kesehatan Mental........................................          2
B.            Faktor-faktor Penyebab gangguan Mental....................          3
C.            Tasawuf dan Kesehatan Mental....................................          4
D.           Dzikir dan Kesehatan Mental........................................          8
BAB      III   KESIMPULAN......................................................................          9
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

Setelah Perang Dunia II, perhatian masyarakat mengenai kesehatan jiwa semakin bertambah. Kesehatan mental bukan suatu hal yang baru bagi peradaban manusia. Pepatah Yunani tentang mens sana in confore sano merupakan satu indikasi bahwa masyarakat di zaman sebelum masehi pun sudah memperhatikan betapa pentingnya aspek kesehatan mental.
Yang tercatat dalam sejarah ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental, kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya (solusi) sejalan dengan peradaban.
Berbicara masalah solusi, kini muncul kecenderungan masyarakat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan spiritual (tasawuf). Tasawuf sebagai inti ajaran Islam muncul dengan memberi solusi dan terapi bagi problem manusia dengan cara mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Pencipta. Selain itu berkembang pula kegiatan konseling yang memang bertujuan membantu seseorang menyelesaikan masalah. Karena semua masalah pasti ada penyelesaiannya serta segala penyakit pasti ada obatnya. Peluang tasawuf dalam menangani penyakit-penyakit psikologis atas segala problem manusia, semakin terbentang lebar di era modern ini.[1]






BAB II
PEMBAHASAN
Fungsi dan Peran Tasawuf dalam Kesehatan Mental
A.      Pengertian Kesehatan Mental
Kesehatan Mental merupakan alih bahasa dari Mental Hygiene atau Mental Health berasal  dari kata Hygiene danMental. Secara etimologi Hygiene dari kata Hygea yaitu, nama Dewi Kesehatan Yunani kuno yang mempunyai tugas mengurus masalah kesehatan manusia di dunia. Kemudian muncul kata hygiene untuk  menunjukkan  suatu kegiatan yang bertujuan mencapai hygiene. Sedangkan mental berasal dari kata latin Mens dan Mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, ruh, dan semangat.[2]
Dalam literatur psikologi, ditemukan beberapa pengertian kesehatan mental, hal itu dapat dimengerti, sebab pemaknaan kesehatan mental dilatarbelakangi oleh konsepsi-konsepsi empirik tertentu yang merupakan bagian dari teori kesehatan mental. Konsep-konsep empirik di sini meliputi dasar-dasar pemikiran mengenai wawasan, landasan, fungsi-fungsi, tujuan, ruang lingkup dan metodologi yang dipakai perumus.[3]
Sebagai dzat yang baik dan suci, Tuhan tidak memberikan jiwa manusia kecuali jiwa yang memiliki kecenderungan sehat, baik, dan suci. Kesehatan jiwa manusia tidak sekedar alami dan fitri, melainkan telah diatur sedemikian rupa oleh sangKhaliq. Dari kerangka ini, kriteria neurosis dan psychosis dalam psikopatologi Islam bukan hanya disebabkan oleh gangguan syaraf atau gangguan kejiwaan alamiah, melainkan juga penyelewengan terhadap aturan-aturan Tuhan atau dengan kata lain lebih banyak terfokus pada perilaku spiritual dan religius.


B.       Faktor-faktor Penyebab Gangguan Mental (Mental Disorder)
Banyak gangguan psikis muncul, karena anak sejak usia yang amat muda mendapatkan perlakuan yang tidak patut dalam situasi keluarganya. Pada hakikatnya, bukan maksud orang tua untuk dengan sengaja menyajikan lingkungan buruk itu. Namun kondisi ekonomis, kultural atau sosial lain memaksa rumah tangga menjadi berantakan, para anggota keluarga bercerai berai, dan menjadi a-susila, misalnya. Pola kriminal dan tidak asusila dari salah seorang anggota keluarga secara langsung atau tidak langsung mencetak pola yang sama pada anak-anak. Juga teman-teman sebaya (anak-anak remaja) dengan tingkah laku berandalan, dan perilaku tetangga-tetangga yang kurang bertanggung jawab, semua itu memberikan banyak iritasi pada pribadi anak, yang pasti akan mengganggu perkembangan jiwanya.
Yang jelas ialah gangguan-gangguan psikis itu hampir-hampir tidak pernah disebabkan oleh satu sebab saja; akan tetapi disebabkan oleh “satu kompleks faktor penyebab”, yaitu oleh :
a.         Faktor organis atau somatis; misalnya terdapat kerusakan pada otak dan proses dementia.
b.        Faktor-faktor psikis dan struktur kepribadiannya; misalnya reaksi neurosis dan reaksi-psikotis pribadi yang terbelah, pribadi psikopatis, dan lain-lain. Kecemasan, kesedihan, kesakitan hati, depresi, dan rendah-diri bisa menyebabkan orang sakit secara psikis; mengakibatkan ketidak-imbangan mental dan desintegrasi kepribadiannya. Maka struktur kepribadian, dan pemasakan pengalaman-pengalaman dengan cara yang keliru bisa membuat orang terganggu jiwanya. Terutama sekali apabila beban psikis ternyata jauh lebih berat dan melampaui kesanggupan memikul beban tersebut.
c.         Faktor-faktor lingkungan atau sosial, faktor-faktor milieu, pergaulan, masyarakat luas. Usaha pembangunan, modernisasi, arus urbanisasi, mekanisasi, dan industrialisasi menyebabkan masyarakat modern menjadi sangat kompleks. Sehingga usaha penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan sosial yang serba cepat dan arus modernisasi menjadi sangat sulit. Maka banyak orang mengalami ketakutan, kecemasan, kebingungan, frustasi, konflik batin dan konflik terbuka dengan orang lain, serta menderita macam-macam gangguan psikis.
Kehidupan kota dengan pola berpacu, serta berlomba-lomba memperagakan kekuasaan dan kekayaan menyebabkan banyak rasa cemburu, iri hati, ketakutan, kecemasan dan ketenangan batin pada penduduknya, yang menjadi persemaian subur bagi timbulnya berbagai penyakit mental. Lebih-lebih dengan penonjolan interest sendiri dan rasa individualisme, kontak sosial di kota-kota menjadi longgar, menjadi semacam atom-atom yang berdiri sendiri. Dalam masyarakat sedemikian ini banyak anggotanya merasa kurang/ tidak aman, menjadi kesepian, panik dan ketakutan, yang mengganggu keseimbangan jiwanya.

C.      Tasawuf dan Kesehatan Mental
Esensi tasawuf telah ada sejak Rasulullah SAW. Namun tasawuf sebagai ilmu keislaman yang merupakan hasil dari kebudayaan Islam sebagaimana bentuk dari ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti fiqh, dan ilmu tauhid. Pada masa Rasulullah SAW belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat Nabi SAW. Secara etimologis, kata tasawuf berasal dari bahasa Arab, yang diperdebatkan asal atau akar katanya. Ada yang mengatakan dari shuf (صوف) yang artinya wol kasar, shafa (صفى), yang artinya bersih dan suci, shoff (صفّ), yang artinya barisan, karena orang yang salat di barisan pertama mendapatkan kemulyaan dan pahala.[4]
Secara terminologis banyak ulama yang mengemukakan definisi tasawuf. Namun yang jelas ia berarti keluar dari sifat-sifat tercela menuju ke sifat-sifat terpuji melalui proses binaan yang dikenal dengan istilah riyadlah (latihan) dan mujahadah (bersungguh-sungguh). Sedangkan menurut Prof. Dr. HM Amin Syukur, inti tasawuf ialah kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung antara manusia dengan Tuhannya.[5]
Tasawuf di sini adalah usaha bagaimana seseorang membersihkan jiwanya, membersihkan jiwa atau roh dengan jalan menghilangkan sifat-sifat buruk  Apabila tasawuf berpangkal dari konsep bahwa kejahatan berpangkal dari nafsu, maka tasawuf bereaksi positif dengan penyucian jiwa dengan melalui mujahadah dan riyadlah.
Pada masa sekarang sudah berbalik. Semua masalah terkait dengan aspek fisik, yang kemudian berpengaruh terhadap jiwa, misalnya bencana kelaparan, kekurangan gizi, dan sebagainya, mempunyai pengaruh besar terhadap jiwa manusia.[6]
Karena di dalam diri manusia terdapat dimensi rohani yang meliputi Hati, Roh, Nafsu, dan Akal (dalam bahasa Arab, qolb, ruh, aql, dan nafs). Pada istilah keempat ini sudah sering muncul dalam tasawuf, kajian tasawuf tak lepas dari pengetahuan tentang keempat istilah ini, yang termasuk dalam dunia kerohaniahan sering dipelajari oleh kaum sufi. Tetapi belum banyak kaum sufi dan ulama yang mengetahui secara mendetail tentang istilah ini karena arti nama-nama tersebut satu sama lain agaknya amat sulit dan rumit untuk dibedakan, karena itu di sini akan diuraikan terlebih dahulu akan pengertian nama-nama tersebut.
1.        Qolb
Pertama, definisi qolb secara fisik adalah daging sanubari (al-lahm as-sanubari), daging khusus yang berbentuk  seperti jantung pisang yang terletak di rongga dada sebelah kiri yang berisi darah hitam kental.[7] Itulah sumber nyawa dan tambangnya. Selain manusia yang mempunyai hati hewan pun mempunyai hati yang dapat mengetahuinya dengan panca indra pengelihatan.[8] Adapun qalb  dalam arti psikis dalam pengertian Lathifah Rabbaniyyah Ruhaniyyah, sesuatu yang halus yang memiliki sifat ketuhanan dan keruhaniahan.[9] Halus maksudnya ialah mengemukakan sifat keadaannya, dimana kita bisa merasa sedih, duka, kesal, gembira, kagum, hormat, benci, marah, cinta, inilah yang merupakan hakekat dari manusia, yang dapat menerima pengetahuan, dapat beramal sekaligus menjadi obyek perintah dan larangan dari Allah.
2.        Ruh
Ruh (nyawa) dalam arti jasmani. Roh adalah tubuh halus (jisim lathif) yang bertempat tinggal di kepala. Sumbernya adalah lubang hati yang bertubuh, lalu tersebar dengan perantaraan urat-urat nadi dan darah yang memanjang ke segala bagian tubuh yang lain dan mengalir ke dalam tubuh, dengan meancarkan cahaya ke seluruh tubuh manusia. Adapun roh dalam arti psikis adalah mengetahui dan merasa  (al-Lathifah al-’Alimah al-Mudrika minal Insan) bahwa roh urusan Tuhan. Karena Tuhanlah yang memberi pancaran cahaya untuk tubuh manusia. Dengan demikian, roh merupakan motor penggerak dalam pendekatan diri kepada Tuhan. Menurut kaum sufi, roh adalah penggerak ke arah kebaikan pada umumnya.

3.      Nafs
Nafs  dalam arti jasmani, nafs adalah kekuatan hawa nafsu amarah yang terletak dalam perut manusia dan merupakan sumber bagi timbulnya akhlak tercela. Nafs menurut kaum sufi dapat dibagi atas tiga peringkat. Pertama, Al-Nafs Al-Imarah bi Al-Su’adalah nafsu yang memerintah atau mengajak kepada kejahatan. Kedua, al-nafs al-lawwamah (nafsu yang menyesali). Karena setiap kali kita melakukan dosa  ada rasa penyesalan atas perbuatan dosa. Ketiga, al-Nafs al-Muthma’innah. Ketika nafsu itu telah dapat ditundukkan sepenuhnya, maka ia akan membawa ketentraman bagi kehidupan.[10]

4.        Aql
Aql dalam arti jasmani, sebagai hati jasmani, sebagai pengetahuan tentang hakekat segala keadaan. Maka akal ibarat dari sifat-sifat ilmu yang tempatnya terdapat dalam hati.[11] Aql dalam arti psikis  ada dua pengertian, pertama akal sebagai pengetahuan tentang hakekat segala keadaan, kedua yang memperoleh pengetahuan batin. Meskipun demikian, sementara sufi menempatkan akal identik dengan (perasaan batin).[12] Aql  yang kedua adalah anugerah besar dari Tuhan kepada manusia karena tidak ada sesuatu pun yang melampauinya dalam memberi manfaat  dan faedah  bagi manusia.
Istilah qolb, roh, nafs dan aql dalam pengertian jasmani berbeda, sedangkan dalam arti psikis banyak terdapat persamaan, pengertian pertama, qolb berarti hati jasmani, roh berarti nyawa jasmani yang sangat lembut, nafs berarti hawanafsu dan sifat pemarah, serta aql berarti ilmu. Adapun dalam pengertian psikis dari keempat istilah itu bersamaan artinya yakni jiwa manusia yang bersifat lembut, rohani dan rabbani, tetapi manusia dalam pengertian fisik tidak kembali kepada Allah setelah hancur badan. Dan psikis akan kembali kepada-Nya setelah hancurnya badan.
Banyak sistem psikologi dan spiritual yang hanya menekankan kepada fungsi satu atau dua tingkat kesadaran tersebut. Di dalam tasawuf, keseimbangan emosi dan hubungan yang sehat dan menyehatkan adalah sama pentingnya dengan kesehatan spiritual dan jasmani. Tujuannya adalah hidup sepenuhnya di dunia tanpa merasa terikat kepadanya atau melupakan sifat dasar diri kita dan tujuan spiritual kita.

D.      Dzikir Dan Kesehatan  Mental
Dzikir yang hakiki ialah, sebuah kedaan  spiritual di mana seorang yang mengingat Allah (dzikir) memusatkan segenap kekuatan fisik dan spiritualnya kepada Allah.[13] Sehingga dalam tubuh merasakan kekuatan dalam iman kepada Allah, karena kemungkinan keadaan berbagai pengaruh yang datang. Maka tubuh tidak bisa lepas dari was-was yang selalu menghimpit dengan berdzikir di dalam hati akan terasa tenang. Para sufi melakukan dzikir kepada Allah untuk menghilangkan rintangan jiwa dan membersihkan dari  perilaku atau akhlak buruk dan sifat-sifat tidak baik, serta menghiasinya dengan dzikir.
Dalam ilmu kedokteran yang berkembang saat ini diterangkan  bahawa tubuh kita mempunyai kejiwaan (psikis), saraf (neuron), dan psikoneuron endokrinologi, ketiganya terdapat  hubungan yang sangat erat. Di dalam tubuh manusia terdapat syaraf yang mengendalikan hormon, yang tergantung dengan kondisi  kejiwaan, apabila  kondisi kejiwaan atau psikis kita baik maka syaraf kita akan baik, atau bahkan sebaliknya dan akan berpengaruh pada hormon, yang pada akhirnya tubuh terjangkit penyakit, ketiga aspek itu harus seimbang dan dalam keadaan sehat.
Pada akhirnya penurunan kekebalan tubuh akan memudahkan penyakit pada fisik kita. Untuk penyeimbangnya agar tubuh tetap sehat, maka kita akan memberi motivasi pada diri kita sendiri untuk selalu menumbuhkan ketenangan, rasa sabar, dan semangat yang tinggi serta kita selalu mendekatkan diri kepada Allah melalui ajaran-ajaran Islam, yang paling utama adalah melakukan dzikir setiap hari.


BAB III
KESIMPULAN
Pemahaman terhadap kesehatan mental yang wajar memestikan akan pengetahuan tentang konsep dasar kesehatan mental, seperti yang telah dijelaskan oleh para psikolog, yaitu motivasi (motivation), pertarungan psikologikal (psychologgical conflict), kerisauan (anciety), dan cara membela diri.
Motivasi adalah keadaan psikologis yang merangsang dan memberi arah terhadap aktivitas manusia. Dialah kekuatan yang menggerakkan dan mendorong aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu motivasi primer (biologis) yang mempunyai kaitan dengan dengan proses organik atau yang timbul dari kekurangan atau kelebihan pada sesuatu yang berkaitan dengan struktur organik manusia. Kedua, motivasi sekunder (psikologi) yang jelas tidak ada kaitannya dengan organ-organ manusia.
Cara membela diri merupakan cara yang dibuat dan dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar untuk menghindarkan dirinya menghadapi pergolakan kerisauan yang dihadapi dan kekuatan-kekuatan yang bertarung dengan nilai-nilai, sikap dan tuntutan masyarakat.
Mempelajari kesehatan pada berbagai ilmu itu pada prinsipnya bertujuan sebagai berikut:
1.        Memahami makna kesehatan mental dan faktor-faktor penyebabnya.
2.        Memahami pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penanganan kesehatan mental.
3.        Memiliki kemampuan dasar dalam usaha peningkatan dan pencegahan kesehatan mental masayarakat.
4.        Meningkatkan kesehatan mental masyarakat dan mengurangi timbulnya gangguan mental masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, 1999, Rahasia Keajaiban Hati, Al-Ikhlas : Surabaya.
Abdul Mujib, Jusuf Mudzakir, 2001, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Dr. M. Solihin, M.Ag., 2003,  Tasawuf Tematik, (Membeda Tema-tema Penting Tasawuf), CV. Pustaka Setia : Bandung.
Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, 2003, Penyembuhan Dengan Dzikir & Do’a, Cendekia : Jakarta.
Imam Ghazali, 1988, Ihya Ulumuddin (Mengembangkan Ilmu-ilmu Agama), Jilid 2, terjemahan Prof. TK. H Ismal Yakub MA, SH., Pustaka Nasional  Pte led, Singapre.
Muhammad Ibn Zakaria Al-Razi, 1994,  Pengobatan Rohani, Mizan : Bandung.
Prof. Dr. Ahmad Tafsir, 2002, Kamus Tasawuf, Rosida : Jakarta.
Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA., 2002,  Menggugat Tasawuf, Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Syamsu Yusuf, 2004, Mental Hygiene Pengembangan Kesehatan Mental Dalam Kajian Psikologi dan Agama, Bandung : Pustaka Bani Quraisy.


[2] Syamsu Yusuf, Mental Hygiene Pengembangan Kesehatan Mental Dalam Kajian Psikologi dan Agama,Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004, hlm. 7.
[3] Abdul Mujib, Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001, hlm. 133.
[4] Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA., Menggugat Tasawuf, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hlm. 1
[5] Ibid., hlm. 3
[6] Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, Penyembuhan Dengan Dzikir & Do’a, Cendekia Jakarta, 2003, hlm. 3.
[7] Dr. M. Solihin, M.Ag., Tasawuf Tematik, (Membeda Tema-tema Penting Tasawuf), CV. Pustaka Setia, Bandung, 2003, hlm. 127
[8] Al-Ghazali, rahasia Keajaiban Hati, Al-Ikhlas, Surabaya, 1999, hlm. 12.
[9] Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin (Mengembangkan Ilmu-ilmu Agama), Jilid 2, terjemahan Prof. TK. H Ismal Yakub MA, SH., Pustaka Nasional  Pte led, Singapre, 1988, hlm. 898.
[10] Dr. Yusril Ali, MA., op.cit., hlm. 85
[11] Muhammad Ibn Zakaria Al-Razi, Pengobatan Rohani, Mizan, Bandung, 1994, hlm. 31
[12] Al-Ghazali, op.cit., hlm. 18
[13] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Kamus Tasawuf, Rosida, Jakarta, 2002, hlm. 36

No comments:

Post a Comment