KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang masih memberikan nikmat
serta hidayahNya kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan tanpa
halangan yang berarti. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi
Agung Muhammad SAW yang telah menyampaikan firman ayat-ayat Allah kepada
seluruh umat manusia sehingga kita mampu membedakan mana yang hak dan mana yang
bathil. Puji syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat kepada Penulis
sehingga makalah “Esensi serta Orientasi Supervisi Pendidikan” ini dapat
selesai tanpa adanya halangan yang berarti.
Terimakasih
yang sebesar-besarnya penulis haturkan kepada Bapak H. Rushan, M.Pd, selaku
dosen Mata Kuliah Administrasi dan Supervisi Pendidikan Prodi Pendidikan Bahasa
Arab Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, yang tak henti-henti
mengarahkan serta mengajari penulis dalam banyak hal. Terimakasih juga penulis
ucapkan kepada semua teman-teman FTK/PBA IV C
yang tak henti-henti memberikan bantuan
kepada penulis, baik berupa materi maupun spirit. Teman-teman yang tak
pernah lelah menyemangati penulis guna pendidikan yang akan membawa kepada
kehidupan yang lebih baik. Ayah dan Ibu yang tak henti-henti mendo’akan untuk
putranya tercinta. Ayah dan ibu dirumah, terimakasih untuk do’a restunya.
Makalah ini
disusun guna memberikan informasi tambahan kepada diri penulis sendiri pada
khususnya dan kepada para pembaca sekalian pada umumnya, tentang esensi dan
orientasi Supervisi Pendidikan serta bagaimana cara mengaplikasikannya dalam dunia
Pendidikan yang sesungguhnya.
Akhirnya
penulis menyadari benar bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam makalah
ini. Karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis
harapakan.
Pekanbaru, 22
Juni 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................... 2
Esensi
serta Orientasi Supervisi Pendidikan........................... 2
A. Esensi Supervisi Pendidikan............................................. 2
B. Orientasi Supervisi Pendidikan......................................... 5
BAB III KESIMPULAN...................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Menurut konsep kuno supervisi dilaksanakan dalam bentuk “inspeksi”
atau mencari kesalahan. Sedangkan dalam pandangan modern supervisi adalah usaha
untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, yaitu supervisi sebagai bantuan
bagi guru dalam mengajar untuk membantu siswa agar lebih baik dalam belajar.
Namun kenyataannya dimasyarakat, masih banyak orang beranggapan bahwa supervisi
pendidikan identik dengan pengawasan yang berbau inspeksi.
Jabatan-jabatan pengawasan yang ditugasi
membantu guru dalam melaksanakan tugas mengajar pada Sekolah Dasar disebut
penilik sekolah berkedudukan di kantor dinas pendidikan kecamatan, sedangkan
pada tingkat SLTP, Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Kejuruan disebut pengawas
sekolah yang berkedudukan pada kantor pendidikan di kabupaten dan kota.
Akibatnya timbullah tingkah laku seperti rasa
kaku, ketakutan pada tasan, tidak berani berinisiatif, bersikap menunggu
instruksi, dan sikap birokratis lainnya bagi para guru. Sebenarnya konsep
supervisi pada awalnya adalah adanya kebutuhan sesuatudalam landasan pengajaran
dengan cara membimbing guru, memilih metode mengajar, dan mempersiapkan guru
untuk dapat melaksankan tugasnya dengan kreatifitas yang tinggi dan otonom
sebagai guru, sehingga pertumbuhan jabatan guru terus berlangsung.
BAB II
PEMBAHASAN
Esensi serta
Orientasi Supervisi
Pendidikan
A.
Esensi Supervisi
Pendidikan
Secara
morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu Super
dan Vision. Super berarti diatas dan Vision berarti
melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan
penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan (orang yang berposisi
diatas, pimpinan) terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga
merupakan kegiatan pengawasan, tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan
Supervisi bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur
pembinaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui
kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian
yang perlu diperbaiki.[1]
Supervisor
adalah seorang yang profesional. Dalam menjalankan tugasnya, ia bertindak atas
dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk melakukan supervisi
diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan
peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak
hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Ia membina peningkatan mutu
akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik, baik dalam hal
fisik maupun lingkungan non fisik.
Perumusan
atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut
asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam
perkataanya itu (semantic). Secara etimologis “Supervisi dialih bahasakan dari
perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara
etimologis masih menurut Ametembun (1993:2), menyebutkan bahwa dilihat dari
bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision :
Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi.[2]
Makna
yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai
kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah
melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi.
Para
ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa
supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada
pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar, seperti yang diungkapkan oleh
( Gregorio, 1966, Glickman Carl D, 1990, Sergiovanni, 1993 dan Gregg Miller,
2003). Hal ini diungkapkan pula dalam tulisan Asosiasi Supervisi dan
Pengembangan Kurikulum di Amerika (Association for Supervision and Curriculum
Development, 1987:129) yang menyebutkan sebagai berikut:
Supervisi
yang dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang
berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih
ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan
pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu
kelembagaan pendidikan.
Dalam
konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan
pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap
proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan
pemberian feed back. (Razik, 1995: 559).
Rifa’i
(1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab
hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap
kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun
bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan
professional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.[3]
Supervisi
pada dasarnya diarahkan pada dua aspek, yakni: supervisi akademis, dan
supervisi manajerial. Supervisi akademis menitikberatkan pada pengamatan
supervisor terhadap kegiatan akademis, berupa pembelajaran baik di dalam maupun
di luar kelas. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada
aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai
pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran.
Oliva
(1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau
supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan
evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials,
and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus
mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan
kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani
kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun indivi- dual. Ada kalanya
supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok, dalam pertemuan-pertemuan
yang berkaitan dengan pengem- bangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen
sekolah secara umum.
Gregorio
(1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi,
penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian. Fungsi inspeksi antara lain
berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, dan pada lembaga
terkait, maka tugas seorang supervisor antara lain berperan dalam melakukan
penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru, siswa,
kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar, dan sasaran inspeksi adalah
menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interview, angket,
pertemuan-pertemuan dan daftar isian.
Fungsi
penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan
sedang dihadapi, dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah,
yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data,
dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang
dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.
Fungsi
pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan
guru/kepala sekolah dalam suatu bidang. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada
guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses
pembelajaran, dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui
demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, individual dan group
conference, serta kunjungan supervisi.
Fungsi
bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara
perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam
menjalankan tugasnya. Kegiatan bimbingan dilakukan dengan cara membangkitkan
kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan
percobaan, serta membantu menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.
Fungsi
penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa
besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti
test, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan
hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan
mutu pendidikan.
B.
Orientasi Supervisi
Pendidikan
Tujuan
utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran (Neagly & Evans, 1980; Oliva,
1984; Hoy & Forsyth, 1986; Wiles dan Bondi, 1986; Glickman, 1990).
Tujuan
umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan
staf agar personil tersebut mampu
meningkatkan kualitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan
proses belajar mengajar.
Secara
operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi pendidikan
yaitu
1.
Meningkatkan
mutu kinerja guru
a.
Membantu
guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai
tujuan tersebut.
b.
Membantu
guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan
siswanya.
c.
Membentuk
moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif,
bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan
lainnya.
d.
Meningkatkan
kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa.
e.
Meningkatkan
kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat
pengajaran.
f.
Menyediakan
sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam
pengajaran.
g.
Sebagai
salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.
2.
Meningkatkan
keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik
3.
Meningkatkan
keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan
dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa
4.
Meningkatkan
kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana
kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar
sebagaimana yang diharapkan.
5.
Meningkatkan
kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram
serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan
keberhasilan lulusan.
Adapun
sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah peningkatan kemampuan profesional guru
(Depdiknas, 1986; 1994 & 1995).
Sasaran
Supervisi Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervise :[4]
1.
Supervisi
Akademik
Menitikberatkan
pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang
berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa
sedang dalam proses mempelajari sesuatu
2.
Supervisi
Administrasi
Menitikberatkan
pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai
pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran.
3.
Supervisi
Lembaga
Menyebarkan
objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah. Supervisi
ini dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah
secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Perpustakaan
dan lain-lain.
BAB
III
KESIMPULAN
Perumusan
atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut, baik menurut
asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya, maupun isi yang terkandung di dalam
perkataanya itu (semantic). Secara etimologis “Supervisi dialih bahasakan dari
perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. Pengertian supervisi secara
etimologis dilihat dari bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah
kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi.
Sebagaimana
pendahuluan dan pembahasan yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa supervisi pada dasarnya merupakan suatu
pengawasan dari orang yang memiliki tingkat lebih tinggi dalam suatu organisasi
(dalam hal ini pendidikan) guna mencpapai tujuan pendidikan yang maksimal
(memaksimalkan inerja tiap anggotanya).
Tujuan
umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan
staf agar personil tersebut mampu
meningkatkan kualitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan
proses belajar mengajar. Adapun
sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah peningkatan kemampuan profesional guru.
DAFTAR PUSTAKA
S.
Wajowasito dan W.J.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1)
Rifa’i
dalam Administrasi Pendidikan Kontemporer, 2008, oleh Dr. H.
Syaiful Sagala, M.Pd, Bandung : Penerbit Alfabeta,
Moh Badrun Sholeh, S.Pdi dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2025208-pengertian-supervisi-pendidikan.index.html (diakses pada 15 Juni 2011)
[1] http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2025208-pengertian-supervisi-pendidikan.index.html
(diakses pada 15 Juni 2011)
[2] S. Wajowasito dan W.J.S
Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1)
[3] Rifa’i dalam Administrasi Pendidikan Kontemporer oleh Dr. H.
Syaiful Sagala, M.Pd, Bandung : Penerbit Alfabeta, 2008, hal. 231.
[4] Moh Badrun Sholeh, S.Pdi
dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2025208-pengertian-supervisi-pendidikan.index.html (diakses pada 15 Juni 2011)
No comments:
Post a Comment