KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang masih memberikan nikmat
serta hidayahNya kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan tanpa
halangan yang berarti. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi
Agung Muhammad SAW yang telah menyampaikan firman ayat-ayat Allah kepada
seluruh umat manusia sehingga kita mampu membedakan mana yang hak dan mana yang
bathil. Puji syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat kepada Penulis
sehingga makalah “Konsep Ketuhanan Dalam Islam” ini dapat selesai tanpa adanya
halangan yang berarti.
Terimakasih
yang sebesar-besarnya penulis haturkan kepada Ibu Dra. Hj. Ilmiati, M.Ag
selaku dosen Mata Kuliah Pengantar Study Agama Islam
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam
Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, yang tak henti-henti mengarahkan serta
mengajari penulis dalam banyak hal. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada
semua teman-teman FTK/ PBA I C
yang tak henti-henti memberikan bantuan
kepada penulis, baik berupa materi maupun spirit. Teman-teman yang tak
pernah lelah menyemangati penulis guna pendidikan yang akan membawa kepada
kehidupan yang lebih baik. Ayah dan Ibu yang tak henti-henti mendo’akan untuk
putra-putrinya tercinta. Ayah dan ibu dirumah, terimakasih untuk do’a restunya.
Makalah ini
disusun guna memberikan informasi tambahan tentang konsep keTuhanan dalam Islam
serta memberikan bukti-bukti klasik dan kontemporer yang dapat digunakan untuk
membuktikan bahwa Allah adalah Wujud (ada).
Akhirnya
penulis menyadari benar bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam makalah
ini. Karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapakan.
Pekanbaru, 25 September 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................... 2
Konsep Ketuhanan dalam Islam............................................. 2
A. Siapakah Tuhan
itu?.......................................................... 2
B. Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan....................... 4
1. Pemikiran Barat.......................................................... 4
2. Pemikiran Umat Islam................................................ 7
C. Pembuktian Wujud Tuhan................................................ 9
1. Pembuktian Melalui Pendekan Klasik........................ 9
a. Kemungkinan Ada dan Tiadanya Alam (Contingency) 9
b. Rangkaian Sebab Akibat (Cosmological)............. 10
2. Pembuktian Melalui Pendekatan Kontemporer.......... 10
a. Peraturan Thermodynamics yang kedua............... 10
b. Purposive Order.................................................... 11
BAB III PENUTUP.............................................................................. 12
A. Kesimpulan...................................................................... 12
B. Kritik dan Saran............................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam sejarah peradaban Yunani,
tercatat bahwa pengkajian dan kontemplasi tentang eksistensi Tuhan menempati
tempat yang khusus dalam bidang pemikiran filsafat. Contoh yang paling nyata
dari usaha kajian filosofis tentang eksistensi Tuhan dapat dilihat bagaimana
filosof Aristoteles menggunakan gerak-gerak yang nampak di alam dalam
membuktikan adanya penggerak yang tak
terlihat (baca: wujud Tuhan).
Tradisi argumentasi filosofis
tentang eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya ini kemudian secara
berangsur-angsur masuk dan berpengaruh ke dalam dunia keimanan Islam. Tapi
tradisi ini, mewujudkan semangat baru di bawah pengaruh doktrin-doktrin suci
Islam dan kemudian secara spektakuler melahirkan filosof-filosof seperti
Al-Farabi dan Ibnu Sina, dan secara riil, tradisi ini juga mempengaruhi warna
pemikiran teologi dan tasawuf (irfan) dalam penafsiran Islam.
Perkara tentang Tuhan secara
mendasar merupakan subyek permasalahan filsafat. Ketika kita membahas tentang
hakikat alam maka sesungguhnya kita pun membahas tentang eksistensi Tuhan.
Secara hakiki, wujud Tuhan tak terpisahkan dari eksistensi alam, begitu pula
sebaliknya, wujud alam mustahil terpisah dari keberadaan Tuhan. Filsafat tidak
mengkaji suatu realitas yang dibatasi oleh ruang dan waktu atau salah satu
faktor dari ribuan faktor yang berpengaruh atas alam. Pencarian kita tentang
Tuhan dalam koridor filsafat bukan seperti penelitian terhadap satu fenomena
khusus yang dipengaruhi oleh faktor tertentu.
Tuhan yang hakiki adalah Tuhan yang
disampaikan oleh para Nabi dan Rasul yakni, Tuhan hakiki itu bukan di langit
dan di bumi, bukan di atas langit, bukan di alam, tetapi Dia meliputi semua
tempat dan segala realitas wujud.[1]
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep
Ketuhanan dalam Islam
A.
Siapakah
Tuhan itu?
Perkataan ilah, yang diterjemahkan “Tuhan”, dalam Al-Quran dipakai
untuk menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia,
misalnya dalam QS : 45 (Al-Jatsiiyah) : 23, yaitu:
|M÷uätsùr& Ç`tB xsªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd ã&©#|Êr&ur ª!$# 4n?tã 5Où=Ïæ tLsêyzur 4n?tã ¾ÏmÏèøÿx ¾ÏmÎ7ù=s%ur @yèy_ur 4n?tã ¾ÍnÎ|Çt/ Zouq»t±Ïî `yJsù ÏmÏöku .`ÏB Ï÷èt/ «!$# 4 xsùr& tbrã©.xs? ÇËÌÈ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[2]
dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan
atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Dalam QS : 28 (Al-Qashash) : 38, perkataan ilah dipakai oleh
Fir’aun untuk dirinya sendiri:
tA$s%ur ãböqtãöÏù $ygr'¯»t _|yJø9$# $tB àMôJÎ=tã Nà6s9 ô`ÏiB >m»s9Î) Îöxî ôÏ%÷rr'sù Í< ß`»yJ»yg»t n?tã ÈûüÏeÜ9$# @yèô_$$sù Ík< $[m÷|À þÌj?yè©9 ßìÎ=©Ûr& #n<Î) Ïm»s9Î) 4yqãB ÎoTÎ)ur ¼çmZàßV{ ÆÏB tûüÎ/É»s3ø9$# ÇÌÑÈ
dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak
mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat[3]
kemudian buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi supaya aku dapat naik melihat
Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk
orang-orang pendusta".
Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah
bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan
pribadi) maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja).
Perkataan ilah dalam Al-Quran juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad:
ilaahun), ganda (mutsanna: ilaahaini), dan banyak (jama’: aalihatun). Derifasi
makna dari kata ilah tersebut mengandung makna bahwa ‘bertuhan nol’ atau atheisme
adalah tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan definisi Tuhan atau Ilah yang
tepat, berdasarkan logika Al-Quran sebagai berikut:
Tuhan (Ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting)
oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai
oleh-Nya.
Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di
dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan
kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan
mendatangkan bahaya atau kerugian.
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-Ilah sebagai berikut:
Al-Ilah
ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadanya, merendahkan
diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah
ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal kepadanya untuk
kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan
ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya (M. Imaduddin, 1989
: 56)
Atas dasar definisi ini, tuhan bisa berbentuk apa saja, yang
dipentingkan manusia. Yang pasti, manusia tidak mungkin atheis, tidak mungkin
tidak ber-tuhan. Berdasarkan logika Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu
yang dipertuhankannya. Dengan begitu, orang-orang komunis pada hakikatnya ber-tuhan
juga. Adapun tuhan mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.
Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “la ilaaha illa Allah”.
Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”,
kemudian baru diikuti dengan penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa
seorang muslim harus membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu,
sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.
Untuk lebih jelas memahami tentang siapakah Allah, DR. M. Yusuf
Musa menjelaskan dalam makalahnya yang berjudul “Al Ilahiyyat Baina Ibn Sina
wa Ibnu Rusyd” yang telah di edit oleh DR. Ahmad Daudy, MA dalam buku Segi-segi
Pemikiran Falsafi dalam Islam. Beliau mengatakan :
Dalam
ajaran Islam, Allah adalah pencipta segala sesuatu ; tidak ada sesuatu yang
terjadi tanpa kehendak-Nya, serta tidak ada sesuatu yang kekal tanpa
pemeliharaan-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang paling kecil dan paling
halus sekali pun. Ia yang menciptakan alam ini, dari tidak ada kepada ada,
tanpa perantara dari siapa pun. Ia memiliki berbagai sifat yang maha indah dan
agung.[4]
B.
Sejarah
Pemikiran Manusia tentang Tuhan
1.
Pemikiran
Barat
Yang dimaksud konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah
konsep yang didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah
maupun batiniah, baik yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman
batin. Dalam literatur sejarah agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori
yang menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama
kelamaan meningkat menjadi sempurna. Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh
Max Muller, kemudian dikemukakan oleh EB Taylor, Robertson Smith, Lubbock dan
Javens. Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme
adalah sebagai berikut:
a.
Dinamisme
Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui
adanya kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang
berpengaruh tersebut ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada
manusia, ada yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif.
Kekuatan yang ada pada benda disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti
mana (Melanesia), tuah (Melayu), dan syakti (India).
b.
Animisme
Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai sesuatu yang aktif
sekalipun bendanya telah mati. Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu
yang selalu hidup, mempunyai rasa senang, rasa tidak senang apabila
kebutuhannya dipenuhi. Menurut kepercayaan ini, agar manusia tidak terkena efek
negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus menyediakan kebutuhan roh.
Saji-sajian yang sesuai dengan saran dukun adalah salah satu usaha untuk
memenuhi kebutuhan roh.
c.
Politeisme
Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan
kepuasan, karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang
lebih dari yang lain kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan
tertentu sesuai dengan bidangnya. Ada dewa yang bertanggung jawab terhadap
cahaya, ada yang membidangi masalah air, ada yang membidangi angin dan lain
sebagainya.
d.
Henoteisme
Politeisme tidak memberikan kepuasan, terutama terhadap kaum
cendekiawan. Oleh karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi,
karena tidak mungkin mempunyai kekuatan yang sama. Lama-kelamaan kepercayaan
manusia meningkat menjadi lebih definitif (tertentu). Satu bangsa hanya
mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui tuhan
(ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu tuhan untuk satu bangsa disebut dengan Henoteisme
(Tuhan Tingkat Nasional).
e.
Monoteisme
Kepercayaan dalam bentuk Henoteisme melangkah menjadi Monoteisme.
Dalam Monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat
internasional. Bentuk Monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam
tiga paham, yaitu: deisme, panteisme, dan teisme.
Evolusionisme dalam kepercayaan terhadap Tuhan sebagaimana
dinyatakan oleh Max Muller dan EB. Taylor (1877), ditentang oleh Andrew Lang
(1898) yang menekankan adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dia
mengemukakan bahwa orang-orang yang berbudaya rendah juga sama monoteismenya
dengan orang-orang Kristen. Mereka mempunyai kepercayaan pada wujud yang agung dan
sifat-sifat yang khas terhadap tuhan mereka, yang tidak mereka berikan kepada
wujud yang lain.
Dengan lahirnya pendapat Andrew Lang, maka berangsur-angsur
golongan evolusionisme menjadi reda dan sebaliknya sarjana-sarjana agama
terutama di Eropa Barat mulai menantang evolusionisme dan memperkenalkan teori
baru untuk memahami sejarah agama. Mereka menyatakan bahwa ide tentang Tuhan
tidak datang secara evolusi, tetapi dengan relevansi atau wahyu. Kesimpulan
tersebut diambil berdasarkan pada penyelidikan bermacam-macam kepercayaan yang
dimiliki oleh kebanyakan masyarakat primitif. Dalam penyelidikan didapatkan
bukti-bukti bahwa asal-usul kepercayaan masyarakat primitif adalah monoteisme
dan monoteisme adalah berasal dari ajaran wahyu Tuhan (Zaglul Yusuf, 1993 : 26-27).
2.
Pemikiran
Umat Islam
Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam,
atau Ilmu Ushuluddin di kalangan umat Islam, timbul beberapa periode setelah wafatnya
Nabi Muhammad SAW. Yakni pada saat terjadinya peristiwa tahkim antara kelompok
Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Mu’awiyyah. Secara garis besar, ada aliran
yang bersifat liberal, tradisional, dan ada pula yang bersifat di antara
keduanya. Sebab timbulnya aliran tersebut adalah karena adanya perbedaan
metodologi dalam memahami Al-Quran dan Hadis dengan pendekatan kontekstual
sehingga lahir aliran yang bersifat tradisional. Sedang sebagian umat Islam
yang lain memahami dengan pendekatan antara kontektual dengan tektual sehingga
lahir aliran yang bersifat antara liberal dengan tradisional. Aliran-aliran
tersebut yaitu :
a.
Mu’tazilah
Merupakan kaum rasionalis di kalangan muslim, serta menekankan
pemakaian akal pikiran dalam memahami semua ajaran dan keimanan dalam Islam.
Dalam menganalisis ketuhanan, mereka memakai bantuan ilmu logika Yunani, satu
sistem teologi untuk mempertahankan kedudukan keimanan. Mu’tazilah lahir
sebagai pecahan dari kelompok Qadariah, sedang Qadariah adalah pecahan dari
Khawarij.
b.
Qodariah
Berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan
berbuat. Manusia sendiri yang menghendaki apakah ia akan kafir atau mukmin dan
hal itu yang menyebabkan manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
c.
Jabariah
Berteori bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam
berkehendak dan berbuat. Semua tingkah laku manusia ditentukan dan dipaksa oleh
Tuhan. Aliran ini merupakan pecahan dari Murji’ah
d.
Asy’ariyah
dan Maturidiyah
Hampir semua
pendapat dari kedua aliran ini berada di antara aliran Qadariah dan Jabariah.
Semua aliran itu mewarnai kehidupan pemikiran ketuhanan dalam
kalangan umat Islam periode masa lalu. Pada prinsipnya aliran-aliran tersebut
di atas tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Oleh karena itu umat
Islam yang memilih aliran mana saja diantara aliran-aliran tersebut sebagai
teologi mana yang dianutnya, tidak menyebabkan ia keluar dari Islam. Menghadapi
situasi dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini, umat Islam perlu
mengadakan koreksi ilmu berlandaskan al-Quran dan Sunnah Rasul, tanpa
dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu.
C.
Pembuktian
Wujud Tuhan
Banyak sekali bukti-bukti yang dapat digunakan untuk menunjukkan
bahwa Tuhan adalah Wujud (ada). Bukti klasik yang sering digunakan adalah
tentang adanya alam semesta. Setiap sesuatu[5]
yang ada tentu diciptakan dan pencipta pertama adalah Tuhan. Pembuktian dengan
pendekatan seperti diatas sebenarnya bukanlah hal baru lagi. Jauh sebelum umat
Islam menggunakan pembuktian semacam itu Plato telah mengemukakan teori dalam
bukunya Timaeus yang mengatakan bahwa tiap-tiap benda yang terjadi mesti
ada yang menjadikan.
Sebagaimana pun bukti-bukti klasik dapat menunjukkan tentang
esensitas wujud Tuhan, namun mereka yang masih saja menganggap dirinya sebagai
atheis tetap saja tidak menerima kebenaran ilmiah hakiki bahwa Tuhan terbukti
ada. Berdasarkan fakta tersebut kiranya penulis merasa perlu juga menyajikan
bukti-bukti yang lebih kontemporer sebagaimana yang diperbincangkan oleh
beberapa ahli pikir pada zaman sekarang khususnya di universitas-universitas di
Scotlandia.
1.
Pembuktian
Melalui Pendekatan Klasik
Adanya alam semesta serta organisasinya yang menakjubkan dan
rahasianya yang pelik, tidak boleh tidak memberikan penjelasan bahwa ada
sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya. Jika percaya tentang eksistensi
alam, maka secara logika harus percaya tentang adanya Pencipta Alam.
Berdasarkan logika yang sama tentang adanya alam dalam membuktikan
adanya Sang Pencipta, maka ketika alam serta organisasinya yang menakjubkan
tersebut kemudian mejadi tidak ada, ketiadaan tersebut
secara logis juga membuktikan adanya satu Dzat yang meniadakannya.
Prof. Dr. H. M
Rasjidi memberikan perumpamaan dalam bukunya :
Kalau dua batang pohon berdiri berdampingan satu sama lain dalam
hutan, bila yang satu mati dan yang satu
tetap hidup, orang akan beranggapan bahwa ada sebab-sebab dan faktor-faktor
yang menimbulkan adanya keadaan yang berlainan itu.
Jika kita amati
dengan seksama apa yang dikemukakan oleh beliau kita akan menemukan satu bukti
besar bahwa Allah itu ada.
Pohon yang mati sebab mendapat penyakit, dan penyakit timbul juga karena sebab,
dan begitulah seterusnya.
2.
Pembuktian
Melalui Pendekatan Kontemporer
Hukum yang dikenal dengan hukum keterbatasan energi atau teori
pembatasan energi[9]
membuktikan bahwa adanya alam tidak mungkin bersifat azali. Bertitik tolak dari
kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika di alam terus berlangsung serta
kehidupan tetap berjalan. Maka hal ini membuktikan secara pasti bahwa alam
bukan bersifat azali.
Jika demikian maka kita dapat mengambil konklusi bahwa dunia ini
akan berakhir dan dunia ini mempunyai permulaan. Satu hal yang kemudian menjadi
menarik bahwa dunia ini tidak dapat terwujud dengan sendirinya, kecuali dengan
pertolongan adanya Dzat yang berada di luar alam. Oleh karena itu pasti ada
yang menciptakan alam yaitu Tuhan.[10]
Segala jenis planet dan bintang yang tersusun dalam tatasurya
berjalan sesuai rotasinya. Matahari dan bulan, siang dan malam bergerak secara
teratur dan mengikuti aturan yang pasti. Semua itu tidak akan mungkin terjadi
secara serasi bila tidak ada yang mengaturnya. Jika dalam pergerakan dan
perputarannya mereka bebas, niscaya malam akan menjadi siang dan siang akan
menjadi malam.[12]
Metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan
keserasian alam oleh Ibnu Rusyd diberi istilah “Dalil Ikhtira”. Disamping itu,
Ibnu Rusyd juga menggunakan metode lain yaitu “Dalil Inayah”. Dalil Inayah
adalah metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan manfaat
alam bagi kehidupan manusia.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting)
oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai
oleh-Nya. Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “la illaha illa Allah”. Susunan
kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan. Yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian
baru diikuti dengan penegasan “melainkan Allah”. Hal ini berarti bahwa seorang
muslim harus membersihkan diri dari segala macam Tuhan terlebih dahulu,
sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu Tuhan yaitu Allah.
Umat Islam yang memilih aliran mana saja (yang ada dalam agama
Islam) sebagai teologi mana yang dianutnya, tidak menyebabkan ia keluar dari
Islam.
Manusia tidak mungkin atheis, tidak mungkin tidak ber-tuhan.
Berdasarkan logika Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya.
Dengan begitu, orang-orang komunis pada hakikatnya ber-tuhan juga. Adapun tuhan
mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.
B.
Kritik
dan Saran
Pendidikan modern telah mempengaruhi peserta didik dari berbagai
arah dan pengaruhnya yang telah sedemikian rupa merasuki jiwa generasi penerus.
Jika tidak pandai membina jiwa generasi mendatang, maka mereka tidak akan
selamat dari pengaruh negatif pendidikan modern. Mungkin mereka merasa ada yang
kurang dalam sisi spiritualitasnya dan berusaha menyempurnakan dari
sumber-sumber lain. Bila ini terjadi, maka perlu segera diambil tindakan, agar
pintu spiritualitas yang terbuka tidak diisi oleh ajaran lain yang bukan
berasal dari ajaran spiritualitas Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al Karim
Dr.
M. Yusuf Musa, 1984, Segi-segi Pemikiran Falsafi dalam Islam (editor : DR.
Ahmad Daudy, MA) Jakarta : Bulan Bintang.
Prof.
Dr. H. M Rasjidi, 1978, Cetakan keempat, Filsafat Agama, Jakarta : Bulan
Bintang.
Sayyid
Mujtaba Musawwi Lari, 1989. God and His Attributes: Lessons on Islamic
Doctrine. Cet. 1. (Terj. Ilham Mashuri dan Mufid Ashfahani). Mengenal
Tuhan dan Sifat-SifatNya. Jakarta: PT. Lentera Basritama.
Agung
Sukses, Konsep Ketuhanan Dalam Islam,
http://agungsukses.wordpress.com/2008/07/24/konsep-ketuhanan-dalam-islam/
(diakses pada 24 September 2011)
Pringgabaya,
Konsep Ketuhanan,
http://pringgabaya.blogspot.com/2011/01/konsep-ketuhanan.html
(diakses pada 24 September 2011)
Kamal,
Konsep Ketuhanan Dalam Filsafat Shadrian,
http://eurekamal.wordpress.com/2007/06/25/konsep-ketuhanan-dalam-filsafat-shadrian/
(diakses pada 24 September 2011)
Prof.
Dr. H. M Rasjidi, 1978, Filsafat Agama, Cetakan keempat, Jakarta : Bulan
Bintang.
[1] Kamal, Konsep Ketuhanan Dalam Filsafat Shadrian, http://eurekamal.wordpress.com (diakses pada 24 September 2011)
[2] Maksudnya
Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa Dia tidak
menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
[4] DR. M. Yusuf Musa dalam Segi-segi Pemikiran Falsafi dalam Islam yang
edit oleh DR. Ahmad Daudy, MA, 1984, Jakarta : Bulan Bintang, hal. 9
[5] Sesuatu disini dibedakan menjadi dua, yakni : 1) sesuatu yang tidak
terbatas (infinite) dan sempurna. Serta, 2) sesuatu yang terbatas (finite).
Lebih lanjut baca Prof. Dr. H. M Rasjidi, 1978, Filsafat Agama, Jakarta
: Bulan Bintang, Cetakan keempat, hal 63-65
[6] Lihat Prof. Dr. H. M Rasjidi, Ibid, 64
[7] Lihat Prof. Dr. H. M Rasjidi, Ibid, 65
[8] Lebih jelas lihat Prof. Dr. H. M Rasjidi, Ibid, 72-76
[9] Lebih dikenal dengan istilah “Degradation of Energy”
[10] Pringgabaya, Konsep Ketuhanan, http://pringgabaya.blogspot.com/
(diakses pada 24 September 2011)
[11] Purposive Order (susunan yang teratur/bermaksud), lihat Prof. Dr.
H. M Rasjidi, Ibid, 157-162
[12] Sayyid Mujtaba Musawwi Lari, 1989. God and His Attributes:
Lessons on Islamic Doctrine. Cet. 1. (Terj. Ilham Mashuri dan Mufid
Ashfahani). Mengenal Tuhan dan Sifat-SifatNya. Jakarta: PT. Lentera
Basritama, hal. 61-62
makasih sob tutorialnya . .
ReplyDeletehttp://sahrul-ti.blogspot.com